KABARDARING.ID – Seorang mahasiswi asal Kabupaten Bengkulu Tengah berinisial DC akhirnya angkat bicara setelah namanya dilaporkan ke pihak kepolisian terkait dugaan investasi yang disebut telah merugikan banyak pihak dengan nilai kerugian ditaksir mencapai Rp1,1 miliar.
Laporan tersebut kini tengah menjadi perhatian publik karena jumlah korban yang disebut-sebut mencapai ratusan orang dan tersebar di sejumlah daerah di Indonesia.
Kepada KabarDaring.ID pada Kamis (11/6/2026) kemarin, DC membantah tudingan bahwa dirinya melarikan diri. Ia mengaku masih berupaya bertanggung jawab kepada para investor dan telah mulai melakukan pembayaran secara bertahap kepada sebagian anggota yang tergabung dalam investasinya.
"Aku lagi usahain untuk dibagi rata untuk para investor yang uangnya setelah reglob masih ada. Ada juga beberapa investor yang setelah reglob sudah banyak dapat untung, jadi aku dan mereka sudah selesai," ujar DC melalui pesan singkat, Kamis (11/6/2026).
DC juga menegaskan bahwa dirinya tetap berkomitmen menyelesaikan persoalan tersebut dan siap menunjukkan bukti pembayaran kepada para investor yang telah menerima cicilan pengembalian dana.
"Aku nggak lari kak, aku masih ada. Memang aku bayar dan cicil sedikit-sedikit karena investornya banyak," katanya.
Menurut pengakuannya, jumlah anggota yang tergabung dalam jaringan investasinya sekitar 50 orang. Ia juga menegaskan bahwa persoalan yang terjadi tidak berkaitan dengan aktivitas akademik maupun institusi kampus tempat dirinya menempuh pendidikan.
Sementara itu, informasi yang dihimpun dari sejumlah pihak menyebutkan bahwa korban sebelumnya melakukan transfer dana secara bertahap ke rekening yang diduga berkaitan dengan terlapor setelah dijanjikan keuntungan tertentu.
Namun seiring berjalannya waktu, keuntungan yang dijanjikan disebut tidak lagi diterima. Sejumlah korban bahkan mengaku kesulitan berkomunikasi dengan pihak yang mengelola investasi tersebut.
Jumlah korban disebut tersebar di berbagai wilayah, mulai dari Sulawesi Selatan, Bengkulu, Sumatera Selatan, Jakarta, Jawa Barat hingga Kalimantan. Sebagian di antaranya mengaku mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah.
Salah seorang sumber yang mewakili korban menyebut pola yang terjadi menyerupai investasi bermasalah yang sebelumnya pernah terjadi di berbagai daerah.
"Awalnya lancar dan sempat ada keuntungan yang masuk. Setelah banyak orang menyetor dana dalam jumlah besar, uang mulai tidak bisa ditarik," ungkap sumber tersebut.
Saat ini sejumlah korban di Bengkulu dikabarkan tengah mengumpulkan bukti transfer, percakapan, dan dokumen pendukung lainnya sebagai dasar untuk menempuh langkah hukum.
Mereka berharap aparat penegak hukum dapat mengusut laporan tersebut secara menyeluruh sehingga memberikan kepastian hukum bagi seluruh pihak yang terlibat.
Hingga berita ini diterbitkan, proses hukum masih berlangsung dan belum terdapat putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap terkait dugaan yang dilaporkan para korban. ***
