Melawan Lupa: Tragedi Gempa dan Tsunami Bengkulu 18 Maret 1818

Foto peta/Ist
Penulis: Redaksi
Rabu, 25 Maret 2026 | 10:55:38 WIB

PERISTIWA gempa kuat yang mengguncang wilayah Bengkulu pada 18 Maret 1818 menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah kebencanaan di pesisir barat Sumatra. Gempa bumi dan tsunami dahsyat ini merupakan bagian dari serangkaian sejarah panjang gempa megathrust di barat Sumatera, serta tercatat sebagai salah satu dari belasan tsunami besar yang pernah menerjang pantai barat Sumatera sejak abad ke-17. Sumber gempa berada di Samudra Hindia sebelah barat Bengkulu dan memicu gelombang laut besar yang menghantam kawasan pesisir.

Kesaksian para pelaut menggambarkan betapa dahsyatnya guncangan tersebut. Kapal Northumberland dan Sandbury dilaporkan terguncang sangat kuat hingga para awak kapal terlempar dari tempat tidur mereka. Getaran gempa bahkan dirasakan oleh Thomas Stamford Raffles yang saat itu berada di atas kapal sejauh sekitar 350 km dari pantai barat Sumatra, menunjukkan luasnya jangkauan energi gempa ini.

Di daratan, kondisi tidak kalah mencekam. Di Fort Marlborough, guncangan sangat kuat terjadi pada malam hari dengan intensitas mencapai sekitar IX MMI, yang mampu melemparkan warga dari tempat tidur. Salah satu saksi mata menyebutkan dirinya terlempar dari tempat tidur, sementara sebagian dinding rumah runtuh akibat kuatnya getaran.

Fenomena yang lebih mengkhawatirkan terjadi menjelang fajar. Laut tiba-tiba surut drastis jauh dari garis pantai, hingga kapal-kapal yang sebelumnya berlabuh terlihat terdampar di dasar laut. Tidak lama kemudian, air laut kembali dengan kekuatan besar, menerjang daratan dan menyapu segala yang dilaluinya. Gelombang tsunami ini bahkan menjangkau jauh ke daratan hingga merendam sebuah jembatan, menandakan energi gelombang yang sangat kuat.

Dampak gempa tidak berhenti dalam waktu singkat. Catatan sejarah menunjukkan bahwa guncangan susulan masih dirasakan hingga setidaknya 8 April 1818, sebagaimana tertulis dalam laporan pada masa itu. Rangkaian kejadian ini menegaskan bahwa wilayah Bengkulu dan sekitarnya merupakan kawasan yang memiliki aktivitas seismik tinggi akibat interaksi lempeng di zona subduksi barat Sumatra.

Peristiwa ini menjadi pengingat penting bahwa pesisir barat Sumatra memiliki potensi gempa dan tsunami yang nyata. “Melawan lupa” bukan sekadar mengenang, tetapi juga memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman serupa di masa depan.(DAR)

Dr. Daryono, Wakil Ketua Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI)

Reporter: Redaksi