KABARDARING.ID – Direktur Eksekutif CIC Lembaga Riset dan Konsultan Sosial, Agus Mauluddin, menilai ketahanan masyarakat Iran dalam menghadapi tekanan geopolitik tidak lepas dari kuatnya identitas kolektif sebagai sebuah bangsa.
Menurut Agus, secara sosiologis masyarakat Iran memiliki keterikatan historis dan kultural yang tinggi terhadap negaranya. Hal ini membuat mayoritas warga tetap memilih bertahan, meski dihadapkan pada ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel.
“Perang bukan hanya persoalan politik atau hubungan internasional, tetapi juga berdampak sosial yang besar. Dalam banyak kasus, konflik memicu gelombang perpindahan penduduk secara masif. Namun, kondisi ini tidak sepenuhnya terjadi di Iran,” ujar Agus di Jakarta, Minggu (5/5/2026).
Ia membandingkan situasi tersebut dengan konflik di Palestina dan Ukraina, di mana banyak warga terpaksa meninggalkan tempat tinggal akibat tekanan konflik berkepanjangan.
Agus menilai, masyarakat Iran justru menunjukkan sikap berbeda dengan tetap bertahan dan tidak tunduk pada tekanan eksternal. Hal ini, menurutnya, dipengaruhi oleh semangat kolektif dalam menghadapi dominasi kekuatan global.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dinamika yang terjadi tidak bisa dilepaskan dari perspektif ketimpangan global antara kekuatan besar dan negara berkembang. Iran dipandang sebagai kekuatan regional yang berupaya mempertahankan kedaulatan di tengah dominasi negara-negara Barat.
“Dalam kacamata sosiologi, konflik ini juga mencerminkan relasi antara kekuatan adikuasa Barat dan negara-negara di kawasan selatan. Iran berada pada posisi sebagai kekuatan mandiri yang berupaya melawan hegemoni,” jelasnya.
Selain faktor politik dan geopolitik, Agus menekankan pentingnya dimensi sejarah dalam membentuk sikap masyarakat Iran. Ia menyebut identitas sebagai bagian dari peradaban Persia menjadi salah satu fondasi kuat dalam mempertahankan semangat kebangsaan.
Ia merujuk pada kejayaan masa lalu, termasuk era Darius Agung, yang menjadikan Persia sebagai salah satu kekuatan besar dunia pada masanya.
“Ini bukan sekadar soal sumber daya atau geopolitik, tetapi juga menyangkut identitas peradaban. Ada kebanggaan historis sebagai bangsa besar yang turut membentuk sikap masyarakat Iran hari ini,” pungkas Agus.
Agus yang juga dosen sosiologi di Universitas Terbuka menilai, faktor identitas, sejarah, dan kesadaran kolektif menjadi kunci utama dalam memahami mengapa masyarakat Iran tetap memilih bertahan di tengah tekanan global.***
