×

Pencarian

Dirut BEI Mundur di Tengah Gejolak IHSG, Analis: Pasar Butuh Pemimpin yang Tegaskan Transparansi

KABARDARING.ID — Pasar modal Indonesia sedang berada di titik krusial. Dalam dua hari terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam, memicu trading halt dua kali berturut-turut, dan menimbulkan kekhawatiran pelaku pasar.

Di tengah tekanan ini, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman resmi mengundurkan diri, Jumat (30/1/2026) pagi. Keputusan ini langsung menjadi sorotan karena bertepatan dengan gejolak pasar yang cukup ekstrem.

Pengamat pasar modal, Hendra Wardana, menilai mundurnya Iman Rachman merupakan bentuk tanggung jawab institusional sekaligus momentum evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola pasar.

“Trading halt yang terjadi dua kali berturut-turut menandakan volatilitas sudah berada di level ekstrem. Pasar membutuhkan figur pemimpin baru yang mampu memperkuat transparansi dan memperbaiki tata kelola,” ujar Hendra kepada Investor Daily.

Hendra menambahkan, penguatan IHSG hari ini hingga pukul 09.28 WIB ke level 8.307 (+0,91%) bersifat teknikal dan sementara. Investor masih menunggu kejelasan arah kebijakan BEI ke depan, terutama terkait penunjukan Direktur Utama yang baru.

Menurutnya, kepemimpinan baru di BEI akan menjadi katalis penting untuk memulihkan kepercayaan investor, menjawab sorotan lembaga indeks global seperti MSCI, serta memperkuat kualitas likuiditas dan free float pasar Indonesia.

“Ke depan, IHSG diperkirakan tetap fluktuatif dengan bias melemah, bergerak di kisaran 8.150–8.350, sambil menunggu respons internal BEI dan regulator,” tambah Hendra.

Iman Rachman menyampaikan pengunduran dirinya dalam jumpa pers singkat di Jakarta.

“Saya sebagai Direktur Utama BEI, dan sebagai bentuk tanggung jawab atas apa yang terjadi dua hari terakhir, menyatakan mengundurkan diri. Saya berharap ini yang terbaik untuk pasar modal,” ujarnya.

Keputusan ini diambil untuk menjaga stabilitas dan kepercayaan pasar, menurut Iman. Kini sorotan tertuju pada figur pengganti yang diharapkan mampu membawa pasar modal Indonesia menuju transparansi, kredibilitas, dan daya saing global. ***