KABARDARING.ID – Dalam sejarah Islam, nama Abu Bakar Ash-Shiddiq RA selalu dikenang sebagai sosok pemimpin yang amanah, sederhana, dan teguh memegang syariat. Sebagai khalifah pertama sepeninggal Rasulullah Saw., ia menjadikan Al-Qur'an dan sunah sebagai pedoman utama dalam setiap kebijakan. Kekuasaan baginya bukanlah kehormatan untuk dinikmati, melainkan amanah yang kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.
Kesederhanaan Abu Bakar tidak pernah berubah sejak awal hingga akhir masa kepemimpinannya. Jabatan sebagai pemimpin kaum muslimin tidak membuatnya hidup mewah. Sebaliknya, ia tetap menjalani kehidupan yang bersahaja dan menjauh dari segala bentuk kemewahan dunia.
Salah satu kisah paling mengharukan terjadi menjelang wafatnya. Dalam riwayat yang disampaikan putrinya, Aisyah RA, Abu Bakar terserang demam setelah mandi pada hari yang sangat dingin. Selama sekitar 15 hari beliau tidak mampu mengimami salat berjamaah dan menunjuk Umar bin Al-Khattab RA untuk menggantikannya.
Di tengah sakit yang semakin berat, perhatian Abu Bakar bukan lagi tertuju pada kesembuhan. Ketika para sahabat menawarkan untuk memanggil tabib, beliau menolaknya dengan tenang. Yang paling dipikirkannya justru bagaimana menghadap Allah dalam keadaan terbebas dari amanah yang masih melekat.
Beliau kemudian memanggil Aisyah dan berpesan, "Periksalah seluruh harta yang masih ada sejak aku menjadi khalifah, lalu serahkan semuanya kepada khalifah setelahku."
Saat diperiksa, ternyata harta yang ditinggalkannya hanyalah seorang pelayan dari Habasyah, seekor unta yang biasa digunakan membawa air sekaligus diperah susunya, serta beberapa barang sederhana lainnya. Tidak ada emas, perak, ataupun kekayaan yang dikumpulkan selama menjabat sebagai pemimpin.
Menjelang sakaratul maut, ketika Aisyah melantunkan syair tentang kefanaan hidup, Abu Bakar menghentikannya. Beliau lebih memilih mendengarkan firman Allah dalam Surah Qaf ayat 19 yang mengingatkan tentang datangnya kematian. Baginya, kalam Allah jauh lebih layak mengiringi detik-detik terakhir kehidupan.
Dalam wasiatnya, Abu Bakar menegaskan bahwa selama menjadi khalifah, ia tidak pernah mengambil satu dinar ataupun satu dirham dari harta kaum muslimin untuk kepentingan pribadi. Ia hidup sebagaimana rakyatnya, makan makanan sederhana, mengenakan pakaian sederhana, dan hanya menerima kebutuhan pokok secukupnya.
Setelah beliau wafat, seluruh peninggalan itu benar-benar diserahkan kepada Umar bin Al-Khattab RA. Melihat betapa sedikit harta yang ditinggalkan Abu Bakar, Umar tidak mampu menahan air mata. Ia berkata bahwa Abu Bakar telah meninggalkan standar kejujuran yang sangat tinggi sehingga membuat tugas para pemimpin setelahnya menjadi jauh lebih berat.
Keteladanan Abu Bakar sebenarnya telah tampak sejak hari pertama diangkat menjadi khalifah. Alih-alih menikmati kedudukannya, beliau justru berjalan menuju pasar sambil membawa barang dagangan untuk mencari nafkah bagi keluarganya.
Di tengah perjalanan, Umar bin Al-Khattab dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah bertanya mengapa seorang khalifah masih pergi berdagang.
"Kalau tidak demikian, bagaimana aku memenuhi kebutuhan keluargaku?" jawab Abu Bakar.
Jawaban itu membuat para sahabat bermusyawarah. Akhirnya diputuskan bahwa khalifah berhak menerima tunjangan dari Baitul Mal agar dapat sepenuhnya mengurus kepentingan umat. Namun Abu Bakar hanya menerima sekadar mencukupi kebutuhan pokok keluarganya dan menolak segala bentuk kemewahan.
Kesederhanaan itu lahir dari sikap qanâ'ah, yakni merasa cukup atas rezeki yang halal. Abu Bakar meyakini bahwa satu suapan makanan yang halal jauh lebih bernilai daripada harta melimpah yang diperoleh dengan cara meragukan. Karena itulah beliau selalu berhati-hati dalam menggunakan kekuasaan dan menjauhkan diri dari segala bentuk penyalahgunaan amanah.
Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA menjadi pelajaran sepanjang zaman bahwa jabatan bukanlah jalan memperkaya diri, melainkan amanah yang harus dijaga dengan penuh kejujuran. Integritas, rasa takut kepada Allah, dan kesederhanaan menjadi benteng utama untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan serta segala bentuk korupsi.
Keteladanan inilah yang membuat Abu Bakar dikenang sebagai salah satu pemimpin paling agung dalam sejarah Islam. Kepemimpinannya tidak hanya kuat dalam menegakkan hukum, tetapi juga bersih dalam pelaksanaannya. Seluruh hidupnya menjadi bukti bahwa amanah adalah tanggung jawab yang harus dijaga hingga napas terakhir.
Tulisan ini bersumber dari buku Nyala Obor Integritas: Kisah Ulama Melawan Korupsi yang diterbitkan Kementerian Agama Republik Indonesia. ***