×

Pencarian

Warga Murka! Antrean Solar di SPBU Lumpuhkan Akses Rumah dan Usaha Masyarakat

KABARDARING.ID – Antrean kendaraan untuk mendapatkan BBM subsidi jenis Bio Solar di sejumlah SPBU Kota Bengkulu kembali menjadi sorotan. Bukan hanya memicu kemacetan, antrean yang mengular setiap hari kini disebut-sebut telah mengganggu aktivitas warga, menutup akses menuju rumah, toko, bengkel, hingga berbagai tempat usaha di sekitar SPBU.

Kondisi tersebut terlihat di kawasan SPBU Kebun Tebeng, Kecamatan Ratu Agung, Senin (13/7/2026). Deretan truk dan kendaraan pengangkut yang menunggu giliran mengisi Bio Solar tampak memanjang hingga keluar area SPBU dan memenuhi badan jalan. Warga menilai situasi ini sudah berlangsung cukup lama, namun belum ada solusi yang benar-benar mampu mengurai persoalan.

Seorang pemilik toko di sekitar SPBU mengaku usahanya ikut terdampak. Menurutnya, banyak pelanggan memilih membatalkan niat berbelanja karena kesulitan memasuki area pertokoan yang tertutup antrean kendaraan.

"Pelanggan banyak yang batal masuk karena akses menuju toko tertutup kendaraan yang mengantre. Kami yang menanggung dampaknya. Pendapatan menurun dan aktivitas usaha terganggu," keluhnya.»

Keluhan serupa disampaikan Putra, seorang pengendara asal Kota Bengkulu. Ia mengaku telah menghabiskan waktu berjam-jam mengantre, tetapi saat tiba di jalur pengisian, stok Bio Solar justru dinyatakan habis.

"Saya sudah antre berjam-jam, pas giliran mengisi malah diberi tahu Bio Solar sudah habis," ujarnya.»

Sementara itu, warga lainnya, Yozel, mengaku harus berpindah-pindah SPBU demi mendapatkan BBM subsidi. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai efektivitas distribusi Bio Solar, termasuk munculnya dugaan adanya kendaraan yang berulang kali mengantre setiap hari.

Kecurigaan itu juga dipicu oleh fakta bahwa sebelumnya Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Bengkulu melalui Subdit IV Tipidter pernah mengungkap kasus dugaan penyalahgunaan BBM subsidi jenis Bio Solar di Kota Bengkulu. Meski demikian, belum ada bukti yang mengaitkan antrean saat ini dengan praktik penyalahgunaan tersebut.

"Kami tidak melarang orang mengantre BBM. Tapi jangan sampai masyarakat yang benar-benar membutuhkan justru tidak kebagian. Kami juga punya hak untuk beraktivitas dan mencari nafkah," kata Yozel.

Ia berharap Pemerintah Provinsi Bengkulu bersama aparat penegak hukum meningkatkan pengawasan terhadap distribusi Bio Solar agar penyaluran tepat sasaran dan tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak berhak.

"Kami berharap Pak Gubernur Helmi Hasan dan Pak Kapolda Bengkulu bisa mencarikan solusi. Jangan sampai persoalan ini dianggap sepele karena BBM merupakan kebutuhan dasar masyarakat," tegasnya.

Pantauan di lapangan menunjukkan antrean mulai terbentuk sejak SPBU dibuka sekitar pukul 06.30 WIB. Kendaraan tersusun dalam dua baris dan memanjang hingga ratusan meter di luar area SPBU sehingga mengganggu kelancaran lalu lintas maupun akses warga menuju permukiman dan lokasi usaha.

Salah seorang petugas SPBU Kebun Tebeng menjelaskan, habis atau tidaknya stok Bio Solar bergantung pada jumlah pasokan yang diterima dari PT Pertamina. Jika pasokan hanya sekitar 8 ton, pengisian biasanya berlangsung hingga siang hari. Namun jika pasokan mencapai 16 ton, pelayanan dapat dilakukan dalam dua sesi hingga sore.

"Kalau stoknya 8 ton, pengisian hanya sampai siang. Kalau 16 ton, biasanya bisa dua sesi sampai sore," jelas petugas.

Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) bersama BPH Migas telah menambah kuota Bio Solar subsidi untuk Provinsi Bengkulu sebesar 1.588 kiloliter (KL) pada Juli 2026. Dengan tambahan tersebut, total kuota meningkat dari 105.658 KL menjadi 107.246 KL, atau setara dengan penyaluran sekitar 344 KL per hari.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Bengkulu, Rico Yulyana, mengatakan tambahan kuota tersebut diharapkan mampu mengurangi antrean kendaraan yang beberapa pekan terakhir terjadi di sejumlah SPBU.

Menurut Rico, berdasarkan hasil koordinasi dengan Pertamina, pasokan Bio Solar sebenarnya tidak mengalami gangguan. Ia menilai panjangnya antrean dipicu meningkatnya jumlah pengguna BBM subsidi karena selisih harga yang cukup jauh dibandingkan Dexlite, sehingga semakin banyak kendaraan beralih menggunakan Bio Solar.

Selain itu, ia juga mengimbau agar pegendara truk milik perusahaan di Provinsi Bengkulu, beralih menggunakan BBM Non Subsidi.

"Mereka harusnya pakai bbm non subsidi," tukasnya. ***