KABARDARING.ID – Aksi simbolik yang digelar Aliansi Bengkulu Mengingat di Bundaran Simpang Lima, Kecamatan Ratu Samban, Kota Bengkulu, Senin (15/6/2026), berlangsung dengan tensi tinggi. Massa aksi sempat terlibat ketegangan dengan aparat keamanan saat upaya pemadaman api yang dibakar sebagai simbol protes dilakukan.
Sekitar 30 mahasiswa yang tergabung dalam aliansi tersebut memulai aksi dengan berkumpul di depan Rumah Sakit Harapan dan Doa sekitar pukul 16.00 WIB sebelum bergerak menuju Bundaran Simpang Lima. Setibanya di lokasi, massa mulai menyampaikan berbagai tuntutan dan kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa membawa berbagai alat peraga, mulai dari pengeras suara, lilin, hingga ban bekas yang kemudian dibakar sebagai bentuk simbolik perlawanan. Situasi mulai memanas sekitar pukul 17.35 WIB ketika aparat berupaya memadamkan api dari ban yang dibakar massa. Upaya tersebut mendapat penolakan sehingga memicu gesekan antara peserta aksi dan petugas pengamanan.
Ketegangan kembali terjadi sekitar pukul 18.00 WIB saat massa kembali menyalakan api menggunakan pakaian sebagai simbol protes. Aparat kembali melakukan pemadaman demi menjaga keamanan dan keselamatan di lokasi aksi.
Sejumlah tuntutan disuarakan dalam aksi tersebut, di antaranya mendesak revisi Undang-Undang TNI/Polri, penguatan nilai tukar rupiah, percepatan pengesahan RUU Perampasan Aset, evaluasi total Program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta stabilitas harga BBM jenis Pertamax dan bahan pokok.
Usai jeda untuk salat Magrib, massa kembali melanjutkan aksi dengan menyalakan lilin sebagai simbol perjuangan dan duka atas kondisi sosial, ekonomi, serta penegakan hukum yang mereka nilai semakin jauh dari rasa keadilan masyarakat.
Puncak aksi terjadi pada pukul 19.23 WIB ketika massa membacakan surat pernyataan sikap. Dalam pernyataan tersebut, mereka menolak praktik militerisme di ranah sipil, meminta pemerintah menghentikan penghibahan tanah masyarakat untuk pembangunan batalion di Bengkulu, mendesak stabilitas harga kebutuhan pokok dan BBM, serta meminta evaluasi terhadap sejumlah program strategis nasional.
Aksi yang berlangsung hingga sekitar pukul 19.30 WIB itu akhirnya berakhir dengan aman dan kondusif di bawah pengawalan aparat keamanan. Aliansi Bengkulu Mengingat menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk pengingat kepada pemerintah agar lebih peka terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan penegakan hukum yang dinilai masih menyisakan banyak persoalan di tengah masyarakat. ***
