WFH ASN Picu Kritik di Medsos, Mayoritas Warganet Masih Bersikap Netral

Data sebaran perbincangan WFH di Medsos/KabarDaring.ID
Penulis: Redaksi
Sabtu, 18 April 2026 | 11:51:04 WIB

KABARDARING.ID – Kebijakan Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) setiap hari Jumat memicu gelombang kritik di media sosial. Isu ini bahkan menjadi sorotan paling tajam sejak diterapkannya program 8 Butir Transformasi Budaya Kerja dan Efisiensi Energi.

Meski demikian, data menunjukkan mayoritas publik belum menunjukkan sikap penolakan yang tegas. Sebanyak 69 persen warganet justru masih berada pada posisi netral, dengan kecenderungan mengamati, mencari informasi, serta mempertimbangkan dampak kebijakan tersebut.

Hal ini terungkap dalam laporan analisis percakapan media sosial yang dirilis PT Binokular Media Utama (Binokular). Dalam periode 31 Maret hingga 12 April 2026, Binokular mencatat sebanyak 137.672 percakapan di berbagai platform seperti X (Twitter), Facebook, Instagram, YouTube, dan TikTok.

Dari total percakapan tersebut, engagement mencapai lebih dari 7,3 juta interaksi. Rinciannya, sentimen netral mendominasi sebesar 69 persen, diikuti sentimen negatif 17 persen, dan sentimen positif 14 persen.

Direktur Binokular, Ridho Marpaung, menyebut bahwa tingginya angka sentimen netral menunjukkan publik masih menunggu bukti konkret dari implementasi kebijakan tersebut.

“Diskursus ini bukan sekadar hiruk-pikuk digital, melainkan cerminan bahwa masyarakat masih dalam tahap observasi,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Berdasarkan distribusi platform, percakapan paling banyak terjadi di TikTok dan Instagram. Mayoritas interaksi berupa komentar pada unggahan, yang berisi pertanyaan, opini, hingga analisis sederhana dari warganet.

Menariknya, di tengah dominasi sikap netral tersebut, isu WFH ASN setiap hari Jumat menjadi topik paling kontroversial dan paling banyak menyedot perhatian publik.

Binokular menilai, kondisi ini menjadi sinyal penting bagi para pemangku kebijakan untuk lebih transparan dalam menyampaikan tujuan, manfaat, serta dampak nyata dari kebijakan yang diterapkan.

“Publik belum memusuhi, tapi mereka menunggu. Ini momentum untuk membangun kepercayaan melalui data dan implementasi yang jelas,” tutup laporan tersebut.

Laporan lengkap analisis ini juga disertai dengan sejumlah rekomendasi strategis guna merespons dinamika opini publik di ruang digital. ***

Reporter: Redaksi