Situasi Politik AS Picu Pembatalan Massal Tiket Piala Dunia 2026

Foto Trump dan Presiden Fifa/Facebook Cerita Bola
Penulis: Redaksi
Sabtu, 17 Januari 2026 | 00:09:30 WIB

KABAR DARING – Menjelang Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, euforia global mulai tercoreng. Ribuan calon penonton dilaporkan membatalkan pembelian tiket pertandingan, dipicu kekhawatiran terhadap situasi politik dan kebijakan imigrasi Amerika Serikat.

Laporan Ticket News dan Roya News menyebutkan sekitar 16.800 tiket Piala Dunia 2026 dibatalkan hanya dalam satu malam. Lonjakan drastis ini terjadi seiring merebaknya seruan boikot di media sosial, khususnya dari suporter internasional yang merasa tidak aman atau terancam oleh kebijakan pemerintah AS.

Pembatalan tersebut menjadi sorotan karena FIFA selama ini menerapkan aturan ketat terkait tiket, termasuk kebijakan non-refundable. Namun, pembatalan diduga terjadi pada fase lanjutan penjualan tiket, termasuk pengunduran diri peserta dalam sistem undian acak serta pembatalan melalui organisasi anggota FIFA.

Situasi ini mendorong FIFA dikabarkan tengah menyiapkan rapat darurat untuk membahas penurunan komitmen pembeli tiket, risiko keamanan bagi suporter asing, serta potensi dampak reputasi terhadap turnamen sepak bola terbesar dunia tersebut.

Travel Ban Jadi Pemicu Utama

Kekhawatiran utama datang dari kebijakan larangan perjalanan (travel ban) yang diberlakukan pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Kebijakan tersebut mencakup pembatasan penuh atau sebagian terhadap warga dari lebih dari 30 negara, termasuk Iran, Haiti, Pantai Gading, dan Senegal. Seluruhnya merupakan negara peserta Piala Dunia 2026.

Meski pemain, ofisial, dan delegasi resmi tim mendapatkan pengecualian, kebijakan tersebut tidak berlaku bagi pendukung dan masyarakat umum. Akibatnya, ribuan suporter terancam gagal menyaksikan langsung tim nasional mereka berlaga di stadion.

“Jika Amerika Serikat melarang warga dari negara tertentu masuk, maka mereka seharusnya tidak menjadi tuan rumah Piala Dunia,” ujar Djibril Gueye, pendukung tim nasional Senegal, seperti dikutip media internasional.

Sebagian suporter masih mencoba mencari jalur masuk alternatif, sementara lainnya memilih menunggu dengan harapan kebijakan tersebut direvisi sebelum turnamen dimulai.

Kekhawatiran Meluas hingga Tim Peserta

Dampak kebijakan ini tidak hanya dirasakan suporter, tetapi juga pemain dan pelatih. Pelatih Pantai Gading, Emerse Faé, menilai larangan perjalanan berpotensi merusak atmosfer Piala Dunia yang seharusnya inklusif dan menyatukan.

Ia berharap solusi dapat diambil, sebagaimana pada turnamen internasional sebelumnya, di mana suporter diperbolehkan masuk dengan mekanisme khusus, seperti verifikasi tiket pertandingan.

Sebagai respons, Presiden Trump sebelumnya mengumumkan rencana penerapan FIFA Pass, sistem yang diklaim akan memberikan prioritas pemrosesan visa bagi pemegang tiket Piala Dunia. Pemerintah AS juga disebut menambah lebih dari 400 petugas konsuler untuk mempercepat layanan visa.

Meski langkah tersebut disambut positif oleh FIFA, efektivitasnya masih dipertanyakan, terutama jika kebijakan larangan perjalanan tetap diberlakukan secara luas.

Dengan waktu yang kian mendekat menuju Piala Dunia 2026, tekanan kini mengarah pada FIFA dan pemerintah AS untuk memastikan turnamen berjalan aman, inklusif, dan sesuai semangat persatuan global yang menjadi ruh Piala Dunia. ***

Reporter: Redaksi