KABARDARING.ID – Momen Hari Kartini dimanfaatkan Kementerian Kesehatan RI untuk menggebrak upaya penurunan angka kematian ibu (AKI) lewat penguatan deteksi dini preeklamsia berbasis teknologi. Langkah ini disebut sebagai strategi kunci yang bisa menyelamatkan lebih banyak nyawa ibu hamil di Indonesia.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam kegiatan Sosialisasi dan Deteksi Dini Preeklamsia di Auditorium Siwabessy, Gedung Kemenkes RI, Jakarta, Selasa (21/4). Lebih dari 150 peserta hadir, termasuk ibu hamil dari berbagai puskesmas di DKI Jakarta. Tak hanya itu, kegiatan ini juga tersambung langsung dengan pemeriksaan serentak di Kabupaten Garut yang disiarkan dari Puskesmas Cikelabs dan Cikajang.
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, bahkan memasang target ambisius: penurunan AKI secara agresif hingga menyentuh angka 40 per 100.000 kelahiran hidup dalam lima tahun ke depan. Target ini dinilai menantang, namun diyakini bisa dicapai lewat transformasi sistem kesehatan dan pemerataan akses deteksi dini.
“Kita tidak hanya menargetkan penurunan, tetapi penurunan yang agresif. Dari 140, dalam lima tahun ke depan kita harus bisa mencapai 40. Kita harus berani menetapkan target ambisius dan bekerja lebih keras, lebih cerdas, serta lebih tepat,” tegas Budi.
Saat ini, angka kematian ibu di Indonesia masih berada di angka 140 per 100.000 kelahiran hidup tertinggal dibanding negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia. Yang mengejutkan, preeklamsia dan eklamsia masih menjadi penyebab terbesar kedua kematian ibu, menyumbang sekitar 25 persen dari total kasus.
Untuk menjawab tantangan itu, Kemenkes menggandeng sejumlah mitra seperti Queenrides, Telecheksam Indonesia, dan Indonesia Prenatal Institute. Mereka menghadirkan inovasi berbasis Internet of Medical Things (IoMT) dan kecerdasan buatan (AI) yang diklaim mampu meningkatkan kualitas skrining secara signifikan.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, Maria Endang Sumiwi, mengungkapkan bahwa teknologi ini kini diperkuat dengan pemeriksaan USG pada arteri uterina dan arteri oftalmik. Hasilnya tak main-main, tingkat deteksi disebut meningkat hingga 50 persen.
“Dari hasil awal yang sudah dilakukan, tingkat deteksi meningkat hingga 50 persen. Jika sebelumnya dari empat kasus terdeteksi, dengan tambahan USG ini bisa menjadi enam kasus. Inovasi ini sangat kami sambut baik untuk memperkuat deteksi dini preeklamsia,” jelasnya.
Fakta lain yang cukup mengejutkan diungkap Founder dan CEO Queenrides, Iim Fahima Jachya. Ia menyebut bahwa R.A. Kartini sendiri diduga meninggal akibat preeklamsia, sebuah ironi yang masih relevan hingga hari ini karena penyakit tersebut tetap menjadi ancaman serius bagi ibu hamil.
Sejak 2022, Kemenkes telah mendistribusikan 10.000 perangkat USG ke puskesmas di seluruh Indonesia. Langkah ini diharapkan mampu memperluas akses deteksi dini hingga ke daerah terpencil, karena keselamatan ibu tak boleh lagi bergantung pada lokasi. ***
