KABARDARING.ID – Harapan menjadikan Pasar Baru Koto sebagai wajah baru pusat perdagangan di Kota Bengkulu tampaknya belum terwujud. Bangunan yang baru direvitalisasi pada awal 2026 ini justru menuai keluhan dari pengunjung dan pedagang akibat berbagai persoalan yang tak kunjung ditangani.
Hasil penelusuran di lapangan menunjukkan kondisi pasar yang jauh dari kata layak. Sejumlah titik akses menuju area pedagang terlihat becek dan dipenuhi genangan air. Aliran air tidak tertata, bercampur dengan sampah plastik dan limbah, sehingga menimbulkan bau tidak sedap.
Permukaan jalan yang tidak rata memperparah kondisi tersebut. Genangan air tampak menetap dalam waktu lama, memicu dugaan adanya kegagalan dalam perencanaan maupun pelaksanaan sistem drainase pada proyek revitalisasi ini.
Tak hanya itu, kondisi membahayakan juga ditemukan pada akses tangga menuju area kuliner. Air terus mengalir dari bagian atas bangunan ke anak tangga, membuat permukaan licin dan berisiko menyebabkan kecelakaan bagi pengunjung.
Di sisi lain, struktur bangunan pasar turut menjadi sorotan. Beberapa bagian masih menggunakan atap seng dan terpal yang dipasang seadanya. Area di bawahnya terlihat lembap, basah, dan kurang tertata, sehingga menimbulkan kesan bahwa revitalisasi dilakukan tanpa pengawasan maksimal.
Seorang pengunjung, Mia, mengaku kecewa dengan kondisi pasar yang dinilai tidak mencerminkan bangunan yang baru diperbaiki.
“Ini pasar baju, mainan anak, dan kuliner, tapi kondisinya seperti pasar ikan. Becek, bau, dan tidak nyaman,” ujarnya, Sabtu (11/4/2026).
Keluhan juga datang dari para pedagang yang setiap hari beraktivitas di lokasi. Mereka mengaku harus bertahan dengan aroma tidak sedap yang diduga berasal dari genangan air dan saluran pembuangan yang tidak berfungsi optimal.
“Sudah lebih dari tiga bulan seperti ini. Bau tidak enak terus, kami khawatir bisa berdampak ke kesehatan,” ungkap salah satu pedagang.
Kondisi yang berlangsung berbulan-bulan tanpa penanganan ini memunculkan pertanyaan terkait pengawasan pasca-proyek revitalisasi. Hingga berita ini diterbitkan, upaya konfirmasi kepada pihak terkait, termasuk Dinas Pekerjaan Umum Kota Bengkulu, belum mendapatkan tanggapan.
Revitalisasi pasar seharusnya tidak hanya berfokus pada tampilan fisik, tetapi juga memastikan fungsi dasar seperti drainase, sanitasi, dan keamanan fasilitas berjalan optimal. Tanpa itu, proyek bernilai besar berpotensi tidak memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.
Kini, publik menanti langkah konkret dari pemerintah untuk segera membenahi kondisi tersebut. Jika dibiarkan, persoalan ini tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berisiko terhadap kesehatan dan keselamatan pengunjung serta pedagang. ***
