KABARDARING.ID — Komitmen memperkuat kesehatan anak di Provinsi Bengkulu semakin ditegaskan melalui Simposium Nasional Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Bengkulu yang digelar di Hotel Mercure Bengkulu, Sabtu (7/2/2026). Kegiatan ilmiah bergengsi ini diikuti sekitar 140 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, terdiri dari dokter anak, dokter umum, dan tenaga kesehatan lainnya, baik secara langsung maupun daring.
Simposium ini bukan sekadar forum ilmiah biasa, tetapi menjadi momentum penting untuk memperkuat kapasitas tenaga kesehatan sekaligus membangun kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi berbagai tantangan kesehatan anak yang semakin kompleks.
Ketua Panitia, dr. Laila Fitri Rahmi, menegaskan bahwa simposium ini dirancang sebagai ruang strategis untuk memperbarui pengetahuan medis, khususnya dalam penanganan kegawatdaruratan anak dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan.
“Ini menjadi wadah penting bagi tenaga kesehatan untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman, sehingga pelayanan kesehatan anak dapat semakin optimal, terutama dalam situasi kegawatdaruratan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua IDAI Cabang Bengkulu, dr. Jumnalis, mengungkapkan fakta yang menjadi perhatian serius. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI tahun 2023, angka kematian bayi di Bengkulu tercatat 19,73 per 1.000 kelahiran hidup, jauh di atas rata-rata nasional yang berada di angka 6,85 per 1.000 kelahiran hidup. Kondisi serupa juga terjadi pada angka kematian balita, di mana Bengkulu mencatat 23,38 per 1.000 kelahiran hidup, lebih tinggi dari angka nasional 19,83 per 1.000 kelahiran hidup.
“Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi kita semua. Melalui simposium ini, kami ingin berkontribusi nyata dalam menurunkan angka kematian bayi dan balita, sekaligus mendukung target SDGs 2030,” tegasnya.
Dukungan juga datang dari Pengurus Pusat IDAI melalui Sekretaris Jenderal, dr. Hikari Ambaran Syakti, yang menekankan pentingnya kerja sama lintas disiplin dalam penanganan kesehatan anak. Menurutnya, keberhasilan pelayanan kesehatan anak tidak bisa hanya bergantung pada dokter anak, tetapi membutuhkan sinergi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah dan tenaga kesehatan lainnya.
“Kolaborasi menjadi kunci utama dalam deteksi dini dan penanganan kegawatdaruratan anak secara cepat dan tepat,” jelasnya.
Simposium ini secara resmi dibuka oleh Gubernur Bengkulu yang diwakili oleh Asisten I Setda Provinsi Bengkulu, Khairil Anwar. Dalam sambutannya, ia menyoroti meningkatnya ancaman penyakit kronis pada anak usia dini yang dapat berdampak pada kualitas generasi masa depan dan menghambat terwujudnya visi Indonesia Emas 2045.
Ia berharap forum ini mampu melahirkan rekomendasi strategis, tidak hanya dalam aspek pengobatan, tetapi juga penguatan langkah preventif melalui edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat.
“Ini bukan sekadar forum ilmiah, tetapi bagian dari upaya besar menyelamatkan masa depan generasi bangsa,” ujarnya.
Sebagai simbol komitmen bersama, kegiatan ditutup dengan penyerahan dukungan resmi dari IDAI Cabang Bengkulu kepada Pemerintah Provinsi Bengkulu, yang diterima langsung oleh Khairil Anwar.
Simposium ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi, ilmu pengetahuan, dan komitmen bersama adalah kunci dalam menciptakan generasi Bengkulu yang sehat, kuat, dan siap menghadapi masa depan. ***
