KABARDARING.ID — Pemerintah Kota Bengkulu memilih pendekatan persuasif dalam menata kawasan Jalan KZ Abidin 1. Jumat pagi (30/1/2026), Walikota Bengkulu Dedy Wahyudi mengawali proses relokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) dengan sarapan dan ngopi bersama para pedagang di lokasi mereka biasa berjualan.
Didampingi Wakil Walikota Ronny PL Tobing dan Sekda Kota Bengkulu Tony Elfian, momen tersebut menjadi simbol komitmen Pemkot Bengkulu menata kota tanpa konflik. Sebanyak 88 PKL yang selama puluhan tahun berjualan di atas trotoar KZ Abidin 1 direlokasi secara sukarela ke Pasar Tradisional Modern (PTM) Pasar Minggu.
Koordinator PKL KZ Abidin 1, Ardius Geong, menyebut para pedagang telah berjualan di kawasan tersebut hampir 20 tahun dan telah melewati empat kali pergantian kepemimpinan Walikota Bengkulu.
“Kami semua warga Kelurahan Kebun Dahri, tidak ada pedagang dari luar kota. Kali ini kami pindah karena kesepakatan bersama, bukan paksaan,” ujar Geong.
Ia menegaskan para PKL mendukung program penataan kota yang dijalankan Walikota Dedy Wahyudi, selama hak dan keberlangsungan usaha pedagang tetap diperhatikan.
Usai sarapan bersama, Walikota Dedy Wahyudi dan Wakil Walikota Ronny PL Tobing secara spontan turut membantu pedagang mengemasi dan memindahkan barang dagangan ke area PTM Pasar Minggu. Bahkan, keduanya terlihat berjalan kaki mendampingi seorang pedagang aksesori menuju ruko baru.
Walikota Bengkulu Dedy Wahyudi mengaku mengapresiasi sikap kooperatif para PKL yang bersedia direlokasi secara sukarela. Menurutnya, penataan kawasan pusat kota harus dibangun dengan dialog dan rasa saling percaya.
“Penataan kota tidak boleh mengorbankan rakyat kecil. Karena itu, Pemkot menggratiskan sewa lapak selama tiga bulan bagi PKL yang pindah ke PTM,” kata Dedy.
Relokasi PKL KZ Abidin 1 diharapkan menjadi langkah awal penataan kawasan pusat Kota Bengkulu agar lebih tertib, nyaman, dan berfungsi sesuai peruntukannya, sekaligus memberi ruang usaha yang lebih layak bagi para pedagang. ***
