Jembatan Baru di Seluma Ambruk, HMI Bengkulu Bongkar Dugaan Lemahnya Tata Kelola Proyek

Akbar Firmansyah, Ketua Bidang Partisipasi Pembangunan Daerah HMI Cabang Bengkulu/KabarDaring.ID
Penulis: Redaksi
Kamis, 23 April 2026 | 15:50:42 WIB

KABARDARING.ID — Ambruknya jembatan yang baru saja diresmikan di Kabupaten Seluma langsung memicu sorotan tajam dari berbagai pihak. Insiden ini dinilai bukan sekadar kecelakaan teknis biasa, melainkan sinyal serius lemahnya tata kelola pembangunan di daerah.

Wartawan media ini mewawancarai Akbar Firmansyah, yang menjabat sebagai Ketua Bidang Partisipasi Pembangunan Daerah HMI Cabang Bengkulu. Dalam keterangannya, Akbar menilai peristiwa tersebut sebagai alarm keras bagi pemerintah daerah.

“Ambruknya jembatan ini adalah bukti nyata bahwa tata kelola pembangunan di Provinsi Bengkulu masih jauh dari prinsip akuntabilitas dan kualitas yang semestinya,” ujar Akbar.

Menurutnya, infrastruktur publik yang dibangun dengan anggaran besar semestinya memiliki standar kualitas dan keamanan yang tinggi. Ia menegaskan bahwa kejadian ini tidak bisa dianggap sebagai peristiwa biasa.

Desakan Investigasi dan Transparansi

Dalam wawancara tersebut, Akbar menyampaikan sejumlah tuntutan tegas dari pihaknya. Ia mendesak agar dilakukan investigasi menyeluruh yang tidak hanya melibatkan internal pemerintah, tetapi juga lembaga independen.

“Kami meminta investigasi dilakukan secara objektif dan terbuka. Jangan hanya berhenti pada pemeriksaan internal,” tegasnya.

Selain itu, ia juga menuntut pertanggungjawaban dari seluruh pihak yang terlibat dalam proyek, mulai dari kontraktor hingga konsultan pengawas.

“Harus ada pihak yang bertanggung jawab. Tidak boleh ada pembiaran terhadap kegagalan proyek seperti ini,” lanjutnya.

Kritik terhadap Minimnya Keterbukaan

Akbar juga menyoroti lemahnya transparansi dalam proyek pembangunan sebagai salah satu akar masalah. Ia menilai kurangnya akses informasi publik sering membuka peluang terjadinya penyimpangan.

“Transparansi itu kunci. Dari tahap perencanaan hingga evaluasi, publik harus tahu. Kalau tertutup, potensi penyimpangan sangat besar,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pemerintah daerah agar tidak serta-merta menyalahkan faktor alam dalam setiap kegagalan proyek.

“Jangan sampai kegagalan dinormalisasi dengan alasan faktor alam. Itu harus diuji secara teknis dan objektif,” katanya.

HMI Siap Kawal dan Dorong Advokasi

Sebagai organisasi mahasiswa, Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Bengkulu menurut Akbar berkomitmen untuk terus mengawal isu ini sebagai bagian dari fungsi kontrol sosial.

“Kami tidak akan berhenti pada pernyataan sikap. Jika tidak ada langkah konkret dan transparan dari pemerintah, kami siap mendorong gerakan advokasi yang lebih luas,” tegasnya.

Ia berharap peristiwa ini menjadi momentum untuk melakukan pembenahan sistem pembangunan di daerah, bukan sekadar menjadi berita sesaat.

“Peristiwa ini harus jadi pintu masuk perbaikan. Jangan sampai kejadian serupa terus berulang,” pungkas Akbar.

Hingga berita ini diturunkan, pihak pemerintah daerah belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab pasti ambruknya jembatan tersebut. ***

Reporter: Redaksi