Sempat Disangkal, Kini Diakui! Bupati Bengkulu Utara Minta Maaf ke Mahasiswa

Pertemuan yang digelar pada Selasa (7/4/2026) di ruang kerja bupati bengkulu utara/Istimewa
Penulis: Redaksi
Rabu, 08 April 2026 | 09:39:39 WIB

KABARDARING.ID - Polemik panas antara mahasiswa dan Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara akhirnya menemui titik terang. Dalam sebuah dialog terbuka, Bupati Bengkulu Utara mengakui telah mengirim pesan yang sempat menuai kontroversi, sekaligus menyampaikan permohonan maaf.

Pertemuan yang digelar pada Selasa (7/4/2026) di ruang kerja bupati itu menjadi momen penting setelah isu ini ramai diperbincangkan di publik. Hadir dalam dialog tersebut jajaran pemerintah daerah, aparat kepolisian, hingga Presiden Mahasiswa Universitas Ratu Samban (UNRAS) 2025, Febrian Sugiarto bersama pengurus BEM periode 2025.

Pengakuan bupati ini sekaligus menjawab polemik yang berkembang di media sosial. Sebelumnya, mahasiswa mengungkap adanya pesan bernada ancaman hukum terkait dugaan pencemaran nama baik, namun sempat dipertanyakan kebenarannya.

“Dengan adanya pengakuan ini, jelas bahwa tidak ada hoaks yang disebarkan oleh mahasiswa. Kritik yang kami sampaikan adalah bagian dari hak demokrasi,” tegas Febrian dalam forum tersebut.

Dalam dialog itu, bupati membenarkan telah mengirim pesan kepada salah satu anggota BEM UNRAS, yang berisi kemungkinan menempuh jalur hukum. Meski demikian, ia menegaskan bahwa hal tersebut dimaksudkan sebagai peringatan, bukan intimidasi.

Namun, pernyataan tersebut tetap memicu reaksi keras dari mahasiswa. Mereka menilai peristiwa ini menjadi catatan serius dalam menjaga kebebasan berpendapat di daerah.

Situasi yang sempat memanas kini mulai mereda setelah bupati secara terbuka menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang terjadi.

Pertemuan ini diharapkan menjadi awal perbaikan komunikasi antara pemerintah daerah dan mahasiswa, sekaligus menjaga ruang demokrasi tetap sehat di Bengkulu Utara.

Mahasiswa pun mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh informasi yang belum jelas kebenarannya, serta tetap berani menyampaikan pendapat sebagai hak yang dijamin konstitusi.

Dukungan dari berbagai pihak, mulai dari aktivis, forum demokrasi, hingga masyarakat, juga disebut turut memperkuat posisi mahasiswa dalam polemik ini. ***

Reporter: Redaksi