Water Purifier PAM Jaya: Solusi Cepat Air Minum Aman, Tekan Plastik di Jakarta
KABARDARING.ID – Transformasi layanan air minum di Jakarta memasuki babak baru. Di tengah keterbatasan sumber air baku dan persoalan jaringan distribusi, water purifier kini didorong sebagai solusi praktis untuk menghadirkan air minum aman langsung di tingkat rumah tangga.
Hal itu mengemuka dalam Ezy TV Podcast Series di Duren Sawit, Jakarta Timur, Selasa (17/3/2026), yang menghadirkan Direktur Strategis & Bisnis PAM Jaya Anugrah Esa, pengamat kebijakan publik Sugiyanto (SGY)-Emik, serta tokoh masyarakat Tobias Pattiasina.
Dalam forum tersebut, PAM Jaya menegaskan komitmennya mengejar target layanan air bersih 100 persen pada 2029. Hingga 2026, cakupan layanan telah mencapai sekitar 80 persen—melonjak signifikan dibanding awal pengelolaan pada 2023.
Namun, tantangan belum selesai. Selain keterbatasan air baku, kualitas air di tingkat konsumen masih dipengaruhi kondisi jaringan pipa lama yang belum sepenuhnya food grade.
Di sinilah water purifier menjadi solusi cepat.
Teknologi penyaringan modern seperti karbon aktif hingga reverse osmosis memungkinkan air di rumah tangga disaring kembali agar aman diminum. Skema ini dinilai efektif sebagai langkah transisi sebelum sistem air siap minum dari keran benar-benar terwujud.
Tak hanya soal kesehatan, isu lingkungan juga menjadi sorotan. Ketergantungan terhadap air minum dalam kemasan dinilai memperparah persoalan sampah plastik yang masih menjadi pekerjaan rumah besar di Indonesia.
Penggunaan water purifier dinilai mampu menekan konsumsi plastik sekali pakai secara signifikan. Di sisi lain, inovasi kemasan berbasis kertas mulai didorong sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan.
Dari sisi hulu, Jakarta masih bergantung pada Waduk Jatiluhur sebagai sumber utama air baku. Kondisi ini mendorong perlunya diversifikasi sumber air, mulai dari desalinasi, daur ulang air limbah, hingga pemanfaatan proyek besar seperti tanggul laut raksasa (Giant Sea Wall).
Selain itu, gagasan pembangunan terowongan air bawah tanah juga dinilai berpotensi menjadi sumber air baku baru di masa depan.
PAM Jaya sendiri menargetkan kebutuhan distribusi air mencapai 32.950 liter per detik pada 2029 guna melayani seluruh warga Jakarta.
Dengan berbagai tantangan tersebut, water purifier dipandang bukan sekadar alat penyaring, melainkan bagian dari strategi besar: menjaga kualitas air, menekan biaya, sekaligus mengurangi beban lingkungan.
Ke depan, kunci keberhasilan tidak hanya pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga perubahan perilaku masyarakat menuju penggunaan air yang lebih bijak dan berkelanjutan. ***