Inflasi Bengkulu Terkendali, Kinerja TPID Masuk Jajaran Terbaik Sumatera
KABARDARING.ID — Upaya pengendalian inflasi yang dilakukan Pemerintah Provinsi Bengkulu menunjukkan hasil positif. Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Bengkulu dinilai sebagai salah satu yang terbaik di Pulau Sumatera, setelah berhasil menjaga stabilitas harga sepanjang 2025.
Pengakuan tersebut disampaikan dalam kegiatan Capacity Building TPID Provinsi Bengkulu bertajuk “Pelaporan One Page Summary dan Program Unggulan TPID se-Provinsi Bengkulu” yang digelar di Hotel Santika Bengkulu, Senin (26/1). Kegiatan ini dibuka langsung oleh Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu, Herwan Antoni.
Forum strategis tersebut dihadiri Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu Wahyu Yuwana Hidayat, perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Mochamad Edy Yusuf, Guru Besar Universitas Lambung Mangkurat Prof. Dr. Muhammad Handry Imansyah, jajaran pejabat Pemprov Bengkulu, serta TPID kabupaten dan kota se-Provinsi Bengkulu.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, mengungkapkan bahwa TPID Provinsi Bengkulu menempati peringkat kedua dari sepuluh provinsi di Sumatera dalam kinerja pengendalian inflasi.
“Capaian ini menunjukkan Bengkulu berada di jalur yang tepat, bukan hanya dalam pengendalian inflasi, tetapi juga dalam mendukung penurunan angka kemiskinan,” ujarnya.
Namun demikian, ia menekankan bahwa prestasi tersebut bukan tujuan akhir. Tantangan ke depan justru menuntut konsistensi dan inovasi agar stabilitas harga dapat dirasakan merata hingga tingkat kabupaten dan kota.
Sementara itu, Pj Sekda Provinsi Bengkulu Herwan Antoni menyampaikan bahwa hingga akhir 2025, inflasi daerah tercatat 2,77 persen (year on year). Angka ini masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 1,5–3,5 persen, sekaligus mencerminkan efektivitas koordinasi lintas sektor di daerah.
Menurut Herwan, kondisi inflasi yang terkendali turut ditopang oleh perbaikan daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi yang tetap positif. Pada triwulan III 2025, ekonomi Bengkulu tumbuh 4,56 persen (YoY).

Ia menjelaskan, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari implementasi kerangka 4K oleh TPID, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, serta komunikasi yang efektif. Sejumlah langkah konkret dilakukan, mulai dari pemantauan harga dan stok pangan, operasi pasar murah, pengamanan distribusi, hingga dukungan pembiayaan dan transportasi melalui APBD.
Meski demikian, Herwan mengingatkan bahwa tekanan inflasi ke depan tetap perlu diantisipasi, terutama pada komoditas pangan strategis seperti cabai dan daging ayam ras yang rentan terhadap lonjakan permintaan dan keterbatasan pasokan.
“TPID perlu terus memperkuat sinergi dengan program nasional seperti Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP), sekaligus mendorong inovasi daerah agar stabilitas harga dan pemulihan ekonomi Bengkulu tetap terjaga,” tegasnya.
Melalui kegiatan capacity building ini, TPID se-Provinsi Bengkulu diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas pelaporan, tetapi juga melahirkan program unggulan yang lebih terarah, adaptif, dan berdampak langsung bagi masyarakat. ***