Rupiah Tembus Rekor Terlemah, Ekonom Nilai Bukan Dipicu Defisit Transaksi Berjalan

Ilustrasi/Net
Penulis: Redaksi
Rabu, 21 Januari 2026 | 03:27:00 WIB

KABAR DARING – Pelemahan nilai tukar rupiah yang nyaris menembus Rp17.000 per dolar AS memicu kekhawatiran pasar. Namun, sejumlah ekonom menilai tekanan tersebut bukan disebabkan oleh memburuknya defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD).

Pada penutupan perdagangan Selasa (20/1/2026), rupiah kembali tertekan dan berada di level Rp16.956 per dolar AS. Meski mencatat posisi terlemah sepanjang sejarah, pelemahan ini dinilai tidak mencerminkan kerentanan fundamental eksternal Indonesia.

Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menegaskan bahwa kondisi CAD Indonesia saat ini masih relatif aman, berada di kisaran minus 0,35 persen terhadap PDB.

“Defisit transaksi berjalan kita masih kecil. Pelemahan rupiah saat ini bukan karena CAD melebar atau arus modal asing keluar,” ujar Myrdal dikutip kontan.Co.id

Ia menjelaskan, tekanan terhadap rupiah lebih dipicu oleh ketidakseimbangan pasokan dan permintaan valuta asing di dalam negeri, terutama antara eksportir dan importir, serta kewajiban pembayaran utang luar negeri korporasi.

Permintaan dolar AS disebut masih tinggi, sementara suplai valas di pasar domestik cenderung terbatas. Kondisi ini terjadi karena banyak eksportir, khususnya sektor sumber daya alam nonmigas, tidak mengonversi devisa hasil ekspor secara penuh ke dalam negeri.

“Likuiditas dolar sebenarnya ada, tapi suplai di dalam negeri kering karena devisa tidak masuk optimal,” jelasnya.

Meski demikian, Myrdal mengingatkan risiko eksternal tetap perlu diwaspadai, terutama jika tekanan global meningkat dan memicu capital outflow. Namun, dampaknya dinilai masih dapat diredam selama fundamental ekonomi domestik tetap terjaga.

“Kalau tekanan global besar, risikonya tentu ada. Tapi selama fundamental kita kuat, dampaknya masih bisa dikelola,” katanya.

Net Ekspor Berpotensi Melemah

Sementara itu, Kepala Ekonom David Sumual memperkirakan kinerja eksternal Indonesia ke depan tidak akan sekuat kuartal IV 2025. Ia memproyeksikan penurunan net ekspor, seiring berakhirnya fenomena front loading impor oleh Amerika Serikat.

“Setelah antisipasi kebijakan tarif Presiden Donald Trump berakhir, impor AS akan kembali normal. Ini berpotensi menekan ekspor negara mitra, termasuk Indonesia,” ujarnya.

Dari sisi pemerintah, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan rupiah dalam kisaran 2–3 persen masih tergolong moderat dan dampaknya ke perekonomian relatif terbatas.

“Kenaikan biaya impor 2–3 persen masih bisa dikendalikan. Yang terpenting, pondasi ekonomi kita justru sedang menguat,” kata Purbaya.

Ia menambahkan, kepercayaan pasar tercermin dari kinerja pasar modal yang mencatat rekor tertinggi. Menurutnya, pelemahan rupiah justru bisa menjadi daya tarik bagi investor, baik dari sisi capital gain maupun potensi keuntungan nilai tukar di kemudian hari.

“Market kelihatan percaya. Ketika fundamental kuat, nilai tukar pada akhirnya akan bergerak searah,” pungkasnya. ***

Reporter: Redaksi